Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Kalau hari ini anak-anak itu menangis, apakah yang akan mereka
harapkan tatkala berlarian mendekat kepadamu? Adakah engkau tawarkan
kepada mereka setangkup roti ataukah engkau bentangkan tanganmu untuk
mendekapnya dengan penuh ketulusan dan kehangatan?
Berbincang tentang ibu, apakah yang mengantarkan orang-orang besar
itu meraih kemuliaan dan kehebatannya? Apakah karena cerdasnya seorang
ibu dalam mengasuh ataukah tulusnya cinta mereka sehingga bersedia
berpayah-payah dan berletih-lelah mendampingi buah hatinya mempelajari
kehidupan? Ataukah karena ibu yang mengikhlaskan rasa sakitnya untuk
mendidik dan mengasuh anaknya?
Pertanyaan yang sama juga patut kita ajukan ketika kita mendapati
kisah orang-orang jenius. Darimanakah mereka berasal? Apakah dari rahim
para ibu yang jenius dan mengerti betul tentang kecerdasan maupun bakat
anaknya? Atau, pertanyaan itu perlu kita balik sejenak, perlukah seorang
ibu mengetahui bakat dan kecerdasan anaknya agar mampu mengantarkan
sang buah hati menjadi manusia jenius?