Oleh Mohammad Fauzil Adhim - Hari ini, kita menanti lahirnya para pemberani. Tak keluh lidahnya
bicara kebenaran. Tak kuyuh langkahnya melihat kesulitan yang
menghadang. Mereka menjadi pemberani bukan karena kuat berkelahi. Tetapi
anak-anak itu tumbuh menjadi sosok pemberani karena himmahnya (hasrat
terbesarnya) akhirat, pegangannya syariat, dan aqidahnya kuat melekat
dalam diri. Mereka berani bukan karena dirinya kuat, tetapi karena
adanya kendali kuat atas syahwatnya terhadap dunia. Mereka menjadi
pemberani karena dirinya ditempa untuk tidak terbiasa dengan tana’um
(bernikmat-nikmat).
Tetapi bagaimana mungkin mereka akan mampu menjauh dari tana’um, jika
mereka tak mampu men-tasharruf-kan harta dengan benar? Bagaimana
mungkin kita dapat mendidik generasi yang tak sibuk berbangga dengan
dunia jika mereka tidak dilatih menahan diri?
Hari ini, kita menunggu munculnya generasi yang kepala mereka tegak
tatkala berhadapan dengan manusia. Kita menunggu lahirnya generasi yang
tak merasa rendah karena berjumpa dengan manusia yang bernampilan wah.
Mereka tak menyibukkan diri memuji manusia berdasarkan benda-benda yang
dipunyai. Mereka tidak memuliakan, tidak pula merendahkan manusia
lainnya karena rupawan tidaknya wajah. Tetapi mereka menilai manusia
karena sikap, perjuangan, akhlak, dan kesungguhannya berbenah.
