SDIT AR-RISALAH KARTASURA Juara Lomba MAPSI

Alhamdulillah SDIT Ar-Risalah Sukoharjo pada MAPSI Tingkat SD se- Kecamatan Kartasura di SD N Kartasura 1,4,6 pada hari Rabu-Kamis, 26-27 September 2012 berhasil membawa pulang 2 Piala dari 12 cabang lomba yang dilombakan, yaitu:

  • Juara I Lomba Adzan ( ananda Ridwan 5D)
  • Juara I Cerita Islami (ananda Rafli 5C)
Insya Allah kedua murid tersebut akan mewakili kecamatan Kartasura lomba di tingkat Kabupaten Sukoharjo. Mohon do'anya semoga bisa lebih baik lagi.

Perlunya Sistem Pendidikan yang Melahirkan Adab

Pelajar dengan senjata tajam setelah ditangkap aparat
oleh: Mohammad Ismail

BARU-baru ini kita disuguhi tontonan yang menyesakkan dada. Tontonan ini bukanlah film action. Tontonan ini beda dengan tontonan-tontonan yang biasa kita lihat di layar kaca. Tontonan ini adalah tindakan anarkis (tawuran) yang diperankan oleh para pelajar. Artinya, mereka masih belajar di bangku sekolah. Fenomena anarkisme ini terjadi antara SMK Kartika Zeni, Matraman, dan SMA Yayasan Karya 66 (Yake), Kampung Melayu. Parahnya, akibat tawuran ini, salah satu siswa dari SMA Yake yaitu Deni Yanuar dengan pelaku yang berinisial AD.
Sepertinya, tawuran telah menjadi kegiatan ekstrakurikuler para siswa. Uniknya kegiatan ekstra ini diciptakan oleh para siswanya sendiri. Bukan dari pihak sekolah. Bisa jadi ini disebabkan karena pelajar kekurangan kegiatan sekolah sehingga mereka mencari kegiatan lain untuk mengekspresikan jiwa pemudanya. Tapi apakah benar demikian?. Mari kita lihat.

Sistem Pendidikan yang Bermasalah

Kenapa tawuran seperti itu sering terjadi?. Pertanyaan ini pasti keluar dari pikiran berbagai pihak. Bukan hanya para guru. Masyarakat pun pasti mempertanyakan hal serupa. Bukan hanya kalangan elit politik. Orang yang kurang berpendidikan pun akan bertanya-tanya apabila melihat fakta ini. Untuk itu, penulis ingin mencoba menelusuri letak permasalahannya.
Seorang pelajar adalah kader bangsa. Pelajar adalah orang yang berpendidikan. Oleh karena itu, mereka disekolahkan di berbagai tempat hanya untuk menuntut ilmu. Mereka dididik dengan harapan menjadi pemimpin-pemimpin yang berilmu. Yang mampu membawa perubahan bangsa ini dengan ilmunya.
Jika sekolah adalah tempat menimba ilmu, lantas kenapa banyak tawuran (kekerasan) terjadi di sana-sini. Jika demikian berarti ada yang salah. Kesalahan itu bisa jadi karena faktor internal atau eksternal. Faktor internal di sini adalah faktor niat para pelajar dalam menuntut ilmu. Sementara faktor eksternal bisa juga terjadi akibat dari provokasi orang luar atau sistem pendidikan yang ada di sekolahan tersebut. Bahkan bisa jadi terletak pada sistem pendidikan nasional kita.
Hanif Dhakiri (Sekretaris FPKB DPR) mengatakan, “Peristiwa ini diakibatkan oleh masyarakat yang kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para pelajar atau remaja”. (detik.com, 27/09/2012).
Selain Hanif, Jokowi pun ikut mengomentari peristiwa tersebut demikian, "Itu bukan lagi hanya permasalahan kota. Namun, sudah menjadi isu nasional, dilihat dari intensitas kejadian dalam sepekan. Hal tersebut sudah di luar kewajaran,". (Kompas, 27/9/2012).
Argumen Hanif seperti ini belum tentu benar. Bahkan bisa jadi menyudutkan salah satu pihak yaitu masyarakat. Apalagi opini Jokowi. Jika hal tersebut dianggap Jokowi di luar kewajaran, berarti ada kemungkinan tawuran yang wajar. Tentu ini tidak bisa diterima begitu saja.
Apapun jenis tawurannya, sudah pasti itu tidak wajar. Apalagi dilakukan oleh pelajar.